Nge-ghosting atau Di-ghosting?



Oleh : 

Shofura, Widya, Rona, Farha.

Ilmu Komunikasi 2020

 

Pernah nggak teman-teman mengalami hal di atas? Ketika sedang chattingan aktif dengan seseorang, tiba-tiba si dia malah menghilang tanpa jejak. Padahal, sepertinya kita nggak melakukan kesalahan apapun sampai membuat dia mengabaikan kita.

Kalau teman-teman pernah merasakan hal tersebut, selamat itu artinya kalian sudah pernah di ghosting! Eits, atau malah teman-teman yang pernah melakukan tindakan tersebut ke orang lain? For your information, berdasarkan hasil survei dan wawancara secara daring yang sudah kami lakukan, ternyata peristiwa ghosting juga dilakukan dan dialami banyak orang, lho. Sebelum membahas lebih jauh, yuk, kita cari tahu dulu apa itu ghosting.

Ghosting merupakan tindakan pemutusan hubungan personal dengan seseorang secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan apapun. Ghosting biasanya dijumpai dalam konteks hubungan romantis, meskipun sebenarnya dapat terjadi dalam hubungan interpersonal lainnya, seperti hubungan pertemanan.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas mengenai ghosting dalam hubungan romantis, khususnya dalam online dating apps. Sebagai anak komunikasi, kita akan membahas fenomena ini dari sudut pandang komunikasi karena salah satu alasan ghosting dapat terjadi adalah faktor komunikasi. Teman-teman tahu nggak sih, ternyata fenomena ghosting ini bisa kita “bedah” dengan salah satu teori dalam Ilmu Komunikasi, lho. Yuk, kita kenalan dengan teori Penetrasi Sosial!

Teori Penetrasi Sosial merupakan teori yang dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor. Teori ini menjelaskan tentang interaksi komunikasi interpersonal yang bertahap, mulai dari fase superfisial hingga fase intim. Teori ini dapat membantu teman-teman untuk memahami tentang bagaimana tahap pengungkapan diri atau self disclosure dapat mempengaruhi hubungan yang dijalani. Teori ini juga bisa membuat teman-teman mengetahui tahap apa saja yang perlu dilalui agar komunikasi dapat berjalan dengan semestinya.

Pada teori ini, terdapat suatu istilah yang disebut analogi bawang yang berarti manusia memiliki beberapa lapisan atau layer dalam kepribadiannya. Lapisan-lapisan kepribadian tersebut diibaratkan seperti lapisan kulit bawang. Nah, karena itulah muncul istilah analogi bawang yang menyebutkan bahwa dalam suatu hubungan yang terjalin, terdapat lapisan-lapisan yang akan dibuka, yaitu dari lapisan luar menuju ke lapisan dalam atau intim. 

Lapisan terluar berisi segala hal yang ditampilkan seseorang dan tidak dapat ditutup-tutupi serta dapat dilihat oleh orang lain secara langsung. Pada lapisan ini, seseorang akan membicarakan hal-hal ringan dan universal dengan orang lain untuk memulai suatu hubungan. Kalau kita dengan hubungkan romantis pada online dating apps, tahap ini terjadi ketika dua orang mengalami kecocokan atau  match dan kemudian melakukan komunikasi via chatting. Chatting yang dilakukan biasanya dimulai dengan saling berkenalan dan membicarakan hal-hal ringan.

Ketika tahap lapisan pertama berjalan dengan baik maka akan lanjut ke lapisan berikutnya, yaitu lapisan resiprositas di mana terjadi proses pertukaran afektif eksploratif. Pada tahap ini, seseorang akan lebih mengenalkan dirinya lebih dalam kepada orang lain dengan membicarakan berbagai hal terkait selera masing-masing, seperti selera musik dan hobi.

Tahap selanjutnya adalah tahap keluasan (breadth) atau disebut tahap pertukaran afektif di mana terjadi pertukaran informasi yang lebih pribadi dan interaksi yang terjadi lebih santai dan akrab. Contohnya nih, ketika kita udah berani curhat mengenai hal-hal pribadi, seperti keyakinan dan cara pandang.

Jika ketiga tahap tadi berhasil dilalui maka akan lanjut ke tahap terakhir, yaitu tahap pertukaran stabil di mana hubungan yang terjadi sudah klimaks atau intim. Disebut intim karena informasi yang diungkapkan dalam proses ini merupakan sesuatu yang dalam dan menjadi inti dari pribadi seseorang, seperti nilai diri dan perasaan yang mendalam. Perlu diketahui juga bahwa dalam tahap ini biasanya hanya terjadi sedikit kesalahpahaman, dan jika pun terjadi maka akan dibicarakan hingga terselesaikan. Nah, di tahap terakhir ini nih peristiwa ghosting bisa terjadi. Kok bisa?

Yap, sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, pada tahap terakhir biasanya jika terjadi kesalahpahaman maka akan diselesaikan. Nah, seseorang yang melakukan ghosting tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan justru menghilang begitu saja sehingga terjadi kesalahpahaman dan berujung pemutusan komunikasi yang mengarahkan pada terhentinya suatu hubungan.

Tindakan ghosting juga bisa dilihat dengan teori cost-reward analysis, yang berarti hubungan terus berjalan apabila dalam prosesnya membawa keuntungan bagi setiap orang yang terlibat. Bahkan, sebelum menjalin hubungan, seseorang akan memperhitungkan untung rugi yang akan didapat. Nah, dari sisi pelaku, teori ini juga berlaku karena menurut mereka hubungan yang dijalani sudah tidak menguntungkan lagi. Untung dalam hal ini bisa dari segi materiil dan mental.

Contohnya ketika menjalin hubungan, si pelaku merasa partner-nya membosankan saat sedang berkomunikasi. Akhirnya, si pelaku pun merasa terpaksa untuk terus berhubungan. Di sini mental pelaku yang tidak diuntungkan dari hubungan tersebut karena secara emosi, si pelaku lelah untuk terus berhubungan, tetapi memaksa untuk tetap chatting-an.

Nah, kalau sudah begini biasanya jalan yang ditempuh oleh pelaku ghosting adalah menghilang tanpa kabar, penjelasan, dan kepastian. Alasannya adalah karena pelaku ghosting menghindari perasaan bersalah kepada partner-nya dalam menjelaskan mengapa ia tidak ingin melanjutkan hubungan. 

Selain menghindari perasaan bersalah, pelaku juga ingin menghindari drama yang mungkin akan muncul ketika ia menjelaskan alasannya. Intinya, si pelaku nggak mau ribet menjelaskan alasannya. Jadi, keputusan yang tepat bagi mereka adalah dengan melakukan ghosting.

Selain itu, dengan teori Penetrasi Sosial, kita juga bisa menganalisis alasan mengapa ghosting bisa membuat korbannya menjadi sakit hati, lho. Dalam teori penetrasi sosial juga membahas bahwa manusia punya empat kebutuhan dasar. Dari empat kebutuhan dasar manusia ini, kita bisa menganalisis akibat perilaku ghosting bagi korban.

Kebutuhan dasar manusia yang pertama, yaitu penghargaan. Setiap orang pasti ingin dihargai, begitu juga dengan teman-teman kan? Dalam berkomunikasi pun kita pastinya juga ingin dihargai. Akan tetapi, jika kita lihat lagi, apakah perilaku ghosting menunjukkan perilaku menghargai orang lain? Ditinggal tiba-tiba seperti itu sakitnya seperti ditolak secara langsung dan bahkan lebih menyakitkan karena perasaan kita digantung tanpa penjelasan, lho.

Penerimaan merupakan kebutuhan dasar yang kedua. Penerimaan merupakan hal yang dibutuhkan setiap orang karena ketika seseorang merasa diterima keberadaannya maka akan timbul rasa percaya diri. Lalu, bagaimana dalam fenomena ghosting ini? 

Di awal mula perkenalan, memang seolah-olah korban merasa diterima, tetapi dengan ditinggalkan begitu saja maka akan timbul anggapan bahwa tidak ada penerimaan yang berkelanjutan dan membuat korban kehilangan kepercayaan diri. Dengan begitu, kita bisa menyimpulkan bahwa tindakan ghosting itu tidak menunjukkan penerimaan atas keberadaan orang yang menjadi korban ghosting, nih.

Setiap orang pasti juga membutuhkan rasa aman, kan? Rasa aman ini merupakan kebutuhan dasar manusia yang ketiga yang tentunya juga dibutuhkan dalam menjalin komunikasi. Banyak korban ghosting yang merasa insecure, lho. Kebanyakan dari mereka merasa tidak aman karena mereka nggak tahu kekurangan atau salah mereka yang menyebabkan mereka sampai menjadi korban ghosting.

Kebutuhan dasar manusia terakhir, yaitu meaningful connection, yang merupakan area penetrasi sosial. Dengan ini, kita bisa melihat bagaimana hubungan berkembang atau berhenti. Saat terjadi ghosting, kita bisa mengetahui bahwa hubungan tersebut sudah berhenti dan sudah kehilangan arti dari suatu hubungan. Hal ini bisa membuat seseorang yang diperlakukan seperti itu menjadi sedih dan merasa tidak berharga.

Nah, dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa dalam berkomunikasi terdapat tahap pengungkapan diri yang dapat mempengaruhi suatu hubungan. Kita juga mengetahui bahwa ada alasan mengapa terjadi ghosting serta dampak yang diterima korban ghosting. Jadi, tidak ada yang lebih baik diantara nge-ghosting maupun di-ghosting, ya! 

Lebih baik teman-teman yang menjalani virtual relationship untuk mengkomunikasikan dengan jelas kepada teman atau pasangan mengenai apa yang diinginkan atau dirasakan. Ketika dari awal sudah terlihat bahwa tujuan teman-teman tidak sama dengan sang partner maka lebih baik dikomunikasikan pula agar tidak menimbulkan persepsi sepihak.