Komunikasi Tanpa Komunikasi



Berangkat dari keresahan yang dirasakan para mahasiswa Ilmu Komunikasi, UPN “Veteran” Yogyakarta, program kerja usut tuntas yang dilaksanakan Bidang Advokasi Himakom berfokus pada keresahan mahasiswa tingkat akhir yang cukup terkendala dalam menyelesaikan skripsi. Banyak kegiatan yang tertunda, seperti penelitian dan bimbingan skripsi karena semuanya harus dilaksanakan secara daring akibat adanya pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, biaya per semester yang harus dibayarkan juga dirasa terlalu mahal, ditambah lagi dengan biaya internet untuk bimbingan daring. Oleh karena itu, Himakom melalui Bidang Advokasi mencoba membantu mencarikan jalan keluar dengan menjadi penengah antara mahasiswa dan pihak birokrasi UPN “Veteran” Yogyakarta.

Seluruh kegiatan perkuliahan yang tiba-tiba harus diubah sistemnya menjadi daring memang cukup menyulitkan banyak pihak. Adanya cara baru tentu menimbulkan masalah baru pula. Itulah yang terjadi ketika mahasiswa harus melaksanakan bimbingan skripsi secara daring. Jaringan yang tidak stabil maupun dosen yang kurang responsif dalam menjawab pesan menjadi permasalahan yang sering ditemukan. Bidang Advokasi kemudian membuat jajak pendapat melalui Google Forms untuk mengetahui segala permasalahan yang dirasakan oleh para mahasiswa tingkat akhir. Berdasarkan hasil jajak pendapat tersebut, permasalahan yang paling sering dirasakan para mahasiswa, yaitu perihal komunikasi. Dari 51 responden, 42% responden menjawab bahwa mereka menerima respons dari dosen terkait bimbingan skripsi hingga tiga hari, bahkan 58% lainnya menjawab respons dosen terkait bimbingan skripsi baru mereka terima setelah lebih dari tiga hari. Keseluruhan jawaban maupun keluhan yang disampaikan dalam Google Forms tersebut kemudian diserahkan kepada pihak Jurusan Ilmu Komunikasi, UPN “Veteran” Yogyakarta untuk ditindaklanjuti.

Keluhan-keluhan yang disampaikan para mahasiswa tersebut juga direspons oleh para dosen pembimbing di Ilmu Komunikasi, UPN “Veteran” Yogyakarta. Dalam pelaksanaan bimbingan skripsi secara daring, kesulitan tidak hanya dirasakan oleh para mahasiswa, tetapi juga para dosen pembimbing. Kegiatan dan urusan dosen yang juga cukup padat serta tugas dan email yang masuk terlalu banyak menjadi kendala yang paling sering dirasakan oleh para dosen pembimbing. Dr. Agung Prabowo, M. Si., salah satu dosen pembimbing di Ilmu Komunikasi, UPN “Veteran” Yogyakarta menyampaikan, “rata-rata dosen membimbing 15 – 20 mahasiswa yang harus dibaca naskahnya setiap minggu. Dosen juga perlu menyiapkan materi untuk mengajar, yang juga perlu untuk mencari referensi untuk menulis dan membuat proposal penelitian. Bagi saya, membimbing tidak hanya sekadar membaca, selesai, lalu mengembalikan. Jadi, harus benar-benar diarahkan, dan perlu mencari referensi untuk membantu mahasiswa.”

Di masa seperti sekarang, saling memaklumi antara dosen dan mahasiswa menjadi alat penengah dimasa sulit seperti kondisi saat ini. Kita semua harus saling mengerti dan memahami karena banyak pihak yang juga merasa kesulitan akibat adanya pandemi Covid-19. Di saat seperti sekarang, kita tidak tahu masalah apa saja yang dihadapi, baik dari mahasiswa maupun dosen. Dengan adanya rasa saling memahami dan memikirkan kondisi orang lain, semua akan berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan masalah ataupun konflik baru. (Hanafiah Beno GAA)