Semestinya Jarak Bukan Halangan Bagi Para Suporter



Sepak bola kembali menggeliat, dahaga para suporter perlahan terobati. Setelah kurang lebih tiga bulan berjarak dengan sepak bola, kini liga-liga Eropa sudah mulai berjalan kembali. Pertanyaan besar dari para pencinta sepak bola tanah air, “Kapan tim kebanggan kita bisa menyusul untuk berlaga lagi?”

Dengan wacana kembalinya Liga Indonesia yang terus digodok PSSI dan PT. LIB dari hari ke hari, muncul banyak pertanyaan, “Apakah penonton maupun suporter akan diizinkan menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion?”, “ Adakah aturan baru yang mengatur kegiatan menonton bola khususnya bagi para suporter yang ingin mendukung tim kesayangannya?”

Jika berkaca dari pertandingan yang sudah dijalankan di Eropa, banyak aturan baru yang dihadirkan dalam rangka pencegahan penularan virus COVID-19. Mulai dari bangku pemain cadangan yang diberi jarak, anjuran tidak ada kontak fisik dalam berbagai kesempatan, dilarang meludah, dan yang paling menjadi sorotan adalah tidak diperbolehkan adanya penonton maupun suporter untuk mengisi tribun.

Terbaru, PSSI melalui situs resminya merilis Surat Keputusan bernomor SKEP/53/VI/2020 tentang Kelanjutan Kompetisi Dalam Keadaan Luar Biasa Tahun 2020. SK tersebut kurang lebih membahas tentang kompetisi Liga 1,  Liga 2, dan Liga 3  yang akan dimulai pada Oktober 2020 dengan memperhatikan ketentuan protokol kesehatan COVID-19 yang ditetapkan oleh pemerintah.

Saya adalah seorang suporter salah satu klub di Yogyakarta. Menonton sepak bola di tribun dengan menyanyikan chants untuk menyemangati klub bersama suporter wajib dilakukan tiap kali tim kebanggan berlaga.  Namun melihat keadaan sepak bola saat ini, dengan sejumlah aturan yang memberikan jarak bagi para suporter, tak hanya para pemainnya, semakin membuat saya ingin memberontak jika aturan baru tersebut akan diadopsi di Indonesia.

Tapi jika ditelisik lebih jauh toh aturan tersebut harus diterapkan demi keselamatan bersama, tidak hanya untuk tim yang bertanding tetapi juga para penontonnya, maka sudah layak dan sepantasnya aturan tersebut harus dipatuhi semua pihak.

Ada hal yang selalu mengganjal pikiran saya apabila nantinya aturan baru tanpa penonton ini diterapkan, “seperti apa rasanya para pemain bertanding tanpa adanya sorakan dari para suporter?”,  saya pribadi sungguh tidak tega melihat tim kebanggaan saya berjuang sendirian.

Mungkin ini hanyalah  hasil overthinking saya belakangan ini yang sudah terlalu lama berdiam diri di rumah dan rindu akan datang ke stadion dengan menyanyikan chants untuk menyemangati mereka agar tak berjuang sendiri. Kalaupun pikiran itu mewakili beberapa perasaan orang di luar sana, mari kita saling menguatkan karena sesungguhnya tak ada jarak bagi para suporter.

Jika memang kita berpikiran postif, aturan baru yang layak disoroti adalah soal physical distancing dimana antar individu manusia diharapkan melakukan jaga jarak satu dan lainnya. Bisa saja nantinya kita, para penonton dan suporter yang akan menonton di stadion, harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

Memasuki era new normal katanya, aktivitas dengan aturan dan kebiasaan yang baru perihal menonton sepak bola di stadion nantinya pun bisa saja dengan aturan-aturan baru. Apabila physical distancing harus diterapkan, maka kita harus legowo dan mematuhinya. Dan dengan itu kemungkinan besar budaya mendukung tim kebanggan di Indonesia maupun di dunia akan berubah.

Seperti yang kita tahu, saat hari pertandingan suporter akan berdatangan secara bersamaan dan beramai-ramai, di dalam tribun mereka akan merapatkan barisan agar ketika melantangkan chants atau membuat koreografi menjadi lebih satu rasa, senasib sepenanggungan. Nah, dengan adanya aturan physical distancing yang kemungkinan besar akan diterapkan, maka kebiasaan itu tak akan kita jumpai lagi dalam waktu dekat.

Lantas bagaimana kita sebagai suporter menyikapinya?

Saya kemarin sempat berbincang dengan salah seorang panutan di kalangan suporter PSS Sleman yang tak ingin disebut namanya, obrolan kami membahas seputar physical distancing apabila diterapkan di tribun: akankah menjadi sebuah masalah bagi suporter?

Baginya, “Physical distancing bukan ancaman bagi para suporter, ancaman kita adalah virus yang bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Melihat sisi positifnya, malah kondisi ini bisa menjadi sebuah tantangan, sebuah kreativitas baru yang harus dimunculkan agar tetap bisa mendukung tim kebanggaan. Yang lebih penting melihat langsung pertandingan sudah bagus sekali dibandingkan keadaan di Eropa yang tanpa penonton.”

Baiknya kita sebagai suporter yang benar-benar mencintai tim dan segenap elemennya, segeralah bergerak bersama. Berikan dukungan sebaik mungkin, yang paling utama adalah dukungan moral khususnya kepada para pemain.

Dukungan moral ini sangatlah penting karena saat ini pun pemain juga pasti terkena dampak negatif dari pandemi ini. Benar kata salah satu panutan suporter tadi, mulai saat ini kita harus berpikir lebih kreatif lagi untuk memberikan dukungan kepada tim, bagaimana caranya agar kita tetap bisa mendampingi tim kebanggaan masing-masing.

Jangan biarkan mereka berjuang sendiri, jangan biarkan keadaan new normal dan physical distancing menjadi jarak bagi para suporter. Dan semoga ada secercah cahaya baik untuk semuanya.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Football Tribe dengan judul "Semestinya Jarak Bukan Halangan Bagi Para Suporter" pada tanggal 30 Juni 2020.